MENUJU INDONESIA BEBAS SAMPAH: TANTANGAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN SAMPAH BERKELANJUTAN
Permasalahan sampah telah menjadi tantangan global yang semakin lama semakin mendesak untuk ditangani, termasuk di Indonesia. Seiring dengan pertumbuhan populasi manusia produksi sampah terus meningkat dari tahun ke tahun tanpa adanya solusi pasti bagaimana cara mengatasi tumpukan sampah yang tidak terolah. hal ini tentu saja menjadi permasalahan serius karena tumpukan sampah yang tidak terolah dengan baik membawa berbagai permasalahan baru, seperti banjir, tanah longsor, wabah penyakit dan masih banyak yang lainnya. Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, sebuah diskusi bertajuk “EcoTalk” diselenggarakan dengan menghadirkan pakar dan penggiat lingkungan untuk berbagi pengalaman dan strategi penanganan sampah yang berkelanjutan.
EcoTalk menjadi media pertukaran pendapat dan pengetahuan tentang pengelolaan sampah yang tepat untuk keberlanjutan dalam, konsep zero waste, serta upaya kolaboratif berbagai pihak dalam mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong tindakan nyata dari dalam diri peserta dan kemudian diharapkan peserta bisa meneruskan hal tersebut dan menjadi sebuah gaya hidup baru.
Pemaparan Materi
Acara dibuka dengan adanya pemaparan materi singkat mengenai zero waste dimana didalamnya membahas mengenai pentingnya strategi penyelamatan lingkungan jangka panjang untuk mengatasi berbagai permasalahan yang disebabkan oleh sampah. Salah satu langkah utama adalah mencegah dan memilih barang sesuai skala prioritas, dengan filosofi bahwa sampah bukanlah sesuatu yang pasti ada jika kita bijak dalam menggunakannya. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip zero waste yang mendorong pengurangan limbah sejak dari sumbernya. Selain itu, peluang ekonomi berbasis ekonomi sirkular perlu dimanfaatkan untuk mengubah pola pikir masyarakat bahwa sampah bisa menjadi sumber daya yang bernilai. Hal ini sangat penting karena sampah, terutama sampah rumah tangga, dapat menyumbat saluran air yang berpotensi menyebabkan banjir. Sampah yang terbawa ke laut juga memperparah fenomena rob, sementara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) seperti TPA Jatibarang yang menerima sekitar 900 ton sampah per hari mengalami overload dan pencemaran akibat timbunan sampah tersebut.
Namun, penerapan zero waste menghadapi sejumlah tantangan, seperti kurangnya kesadaran masyarakat yang menyebabkan sampah tidak dipilah dengan baik, minimnya infrastruktur pengelolaan sampah, serta hambatan teknis dan regulasi yang belum ditegakkan secara maksimal. Dalam hal ini, peran mahasiswa sangat krusial dalam penerapan prinsip 5R: Reduce (mengurangi penggunaan barang sekali pakai), Reuse (menggunakan kembali barang), Recycle (mendaur ulang), Refuse (menolak barang yang tidak perlu), dan Repair (memperbaiki barang yang rusak) sebagai langkah kecil mengubah lifestyle ramah sampah. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan kita sebagai mahasiswa dan generasi muda dapat berkontribusi pada pengurangan sampah dan menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Sesi talkshow
Sesi diskusi menghadirkan 2 narasumber hebat yang sudah pakar dalam masalah pengolahan sampah. narasumber pertama adalah bu sri seorang dosen teknik lingkungan UNDIP yang aktif dalam kegiatan pengolahan sampah dan narasumber kedua kita adalah mbak novi dari bintari yang memiliki banyak pengalaman mengenai pengolahan sampah.
Mbak Novi, salah satu narasumber, berbagi pengalaman menarik tentang kolaborasi dengan Indofood dalam inisiasi pengelolaan sampah bekerja sama dengan para pemilik warung mie instan (warmindo). “Kami memberikan edukasi kepada mas-mas warmindo tentang cara memilah sampah, terutama etiket plastik Indomie,” jelasnya. Program ini telah mencakup 75 warmindo di kawasan Tembalang dan UNNES Gunung Pati dengan hasil yang cukup menggembirakan.
Diskusi juga membahas dampak negatif sampah yang tidak terkelola dengan baik:
- Dampak kesehatan: tumpukan sampah menjadi sarang penyakit, pembakaran sampah plastik menghasilkan dioksin yang berpotensi menyebabkan kanker dan gangguan pernapasan
- Dampak lingkungan: mengganggu estetika dan mencemari ekosistem
- Dampak ekonomi: mengurangi potensi pariwisata
- Dampak pada sumber daya air: air sungai tercemar oleh sampah, terutama styrofoam yang sulit terurai dan menurunnya kualitas air tanah karena terkontaminasi tumpukan sampah.

Sesi campaign
Para peserta diajak aktif dengan diadakan Sesi campaign dengan tema zero waste dimana peserta berkelompok untuk membahas sebuah topik zero waste untuk selanjutnya ide mereka dituangkan dalam bentuk mind map yang dipresentasikan. berdasarkan hasil diskusi peserta dengan beberapa topik bahasan zero waste didapatkan :
- Kelompok 1 : gerakan deterjen bersih
- Kelompok 2 : zero food waste
- Kelompok 3 : food chain contamination
- Kelompok 4 : stop fomo thrift baju
- Kelompok 5 : Tanggung jawab sosial dan lingkungan pada industri non SDA
Dalam feedback campaign, Bu Sri dan mbak Novi menekankan pentingnya pendekatan Pentahelix dalam pengelolaan sampah, yaitu sinergi antara pemerintah, masyarakat, industri, akademisi, dan media. “Semuanya harus berjalan berdampingan, tidak bisa sendiri-sendiri,” tegas Bu Sri.
Diskusi juga menyoroti empat motivasi dalam menjaga lingkungan: ibadah, keselamatan lingkungan, interaksi sosial, dan potensi finansial. pemerintah juga menggalakan program-program seperti 1.000 Bank Sampah di Kota Semarang (yang kini telah mencapai 800 lebih) menjadi contoh usaha pendekatan kolaboratif pemerintah.


EcoTalk menyoroti pentingnya pendekatan komprehensif dalam pengelolaan sampah yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Beberapa poin utama yang dapat disimpulkan:
- Pengelolaan sampah yang baik memerlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, industri, dan media (Pentahelix)
- Konsep zero waste, meskipun sulit dicapai secara absolut, dapat diupayakan melalui penerapan prinsip 5R dan perubahan gaya hidup.
- Edukasi dan infrastruktur perlu berjalan beriringan untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif.
- Motivasi dalam menjaga lingkungan dapat bersumber dari kesadaran diri sendiri, kecintaan pada lingkungan, interaksi sosial, dan potensi ekonomi.
- Tindakan kecil dari diri sendiri, seperti membawa tumbler sendiri dan memilah sampah di rumah, dapat memberikan dampak signifikan jika menjadi suatu lifestyle.
Melalui EcoTalk, diharapkan peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan tetapi juga terinspirasi untuk mengambil tindakan nyata dalam mengurangi sampah dan berkontribusi pada lingkungan yang lebih berkelanjutan. Seperti yang disampaikan dalam diskusi, “Sampahku, tanggung jawabku” – sebuah prinsip sederhana namun kuat yang mengingatkan kita semua bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama.


Recent Comments